Hilmar mengambil contoh penaklukan Lombok pada 1894 melibatkan kekuasaan Karangasem atas masyarakat Sasak, aliansi sebagian pihak Sasak dengan Belanda, serta perampasan oleh pasukan Belanda. Setelah istana Cakranegara jatuh, Belanda mengirim 230 kilogram emas dan 7.000 kilogram perak ke Batavia dalam waktu 48 jam.
Penjarahan itu bukan sekadar pencurian benda, melainkan bagian dari sejarah penaklukan yang kemudian tersamarkan ketika benda-benda tersebut disebut sebagai koleksi museum.
Hilmar mengusulkan agar masyarakat Sasak dan perwakilan Karangasem-Bali diberi hak suara nyata dalam menentukan akses, cerita, dan ritual benda-benda pusaka.
Menurutnya, museum juga harus menampilkan sejarah berlapis itu secara jujur, bukan sekadar sebagai "harta karun" atau "pemulihan nasional."
"Restitusi yang berbasis fakta sejarah akan bertahan, sedangkan yang hanya berbasis rasa bersalah mudah berubah mengikuti politik," ujarnya.