Ketika lingkungan keluarga rapuh dan anak mengalami krisis kasih sayang, kerentanan psikologis akan terbentuk sehingga luapan emosi cenderung dilampiaskan melalui tindakan kekerasan sepihak.
βAnak yang demikian kemudian mengalami kegelisahan di dalam bersikap dan bertindak, dan itu secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka,β ujarnya.
Selain masalah pengasuhan di rumah, penyebaran paham radikalisme dan aksi vigilantisme di era digital semakin diperparah oleh obsesi anak muda terhadap perhatian instan di media sosial.
Tindakan anarkis kerap disalahartikan sebagai sarana mengangkat eksistensi diri agar populer atau viral. Fenomena pamer perilaku menyimpang tersebut, lanjut dia, membuat pelaku merasa puas karena obsesi emosionalnya untuk mendapat atensi publik telah terpenuhi.