Terkait upaya penanggulangan radikalisme dari pihak pemerintah, khususnya melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Darmaningtyas menegaskan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan penyuluhan sesekali. Diperlukan edukasi publik yang konsisten serta pendekatan dialogis yang mendalam, terutama dalam merendam pandangan keagamaan yang sempit di kalangan remaja.

β€œKalau sudah menyangkut pandangan yang sempit dalam hal keagamaan, penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus melalui edukasi, dialog, dan adu argumen sampai orang itu punya kesadaran bahwa dirinya keliru, meskipun itu memerlukan waktu, energi, dan biaya yang besar,” katanya menegaskan.

Ia mengimbau, para orang tua untuk kembali mengambil peran edukasi secara langsung di rumah. Ketergantungan pada gawai perlu dibatasi agar tidak merenggangkan relasi emosional keluarga serta merusak psikologis anak.

β€œKeluarga harus menjaga keutuhan dan menghindari pola asuh yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada HP, karena hal tidak hanya merusak relasi dan saraf anak, melainkan juga melahirkan generasi yang rentan terpapar paham radikalisme di masa depan,” ungkap Dharmaningtyas.