Setiap penambahan tiga desibel, batas waktu aman untuk mendengarkannya akan berkurang menjadi separuh. Artinya, jika seseorang terpapar suara sebesar 121 desibel, batas toleransi amannya hanyalah tujuh detik. Bahkan, jika mencapai kekuatan 130 desibel, telinga manusia hanya mampu bertahan selama 1,5 detik sebelum risiko kerusakan organ terjadi.
"Kerusakan paling rentan terjadi pada bagian telinga dalam atau koklea, tepatnya pada sel-sel rambut koklea yang berfungsi merubah energi suara menjadi impuls listrik ke otak, dan jika sel ini rusak parah maka sifatnya permanen serta tidak bisa diperbaiki," terangnya kepada awak media, Senin (31/8/2026).
Selain kerusakan pada sel rambut, paparan desibel tinggi membawa risiko trauma tekanan pada organ telinga tengah. Indra mendapati fakta memprihatinkan di lapangan saat banyak orang tua justru sengaja mengangkat balita mereka mendekati sumber suara demi kesenangan sesaat. Padahal, telinga yang berdenging setelah mendengar dentuman keras merupakan alarm bahaya pertama dari tubuh.
Berdasarkan pengalaman klinisnya, pasca-pergelaran acara bernuansa kebisingan tinggi di kawasan Malang, jumlah pasien yang mengeluhkan penurunan fungsi pendengaran selalu mengalami lonjakan. Ironisnya, penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami tuli hingga ia merasa kesulitan saat berinteraksi.