"Tekanan udara dari suara yang terlalu keras jika didengarkan dari jarak dekat dapat merusak tulang-tulang peredam pendengaran, bahkan berisiko membuat gendang telinga mengalami robekan yang membutuhkan tindakan operasi," urainya.

Menyikapi fenomena ini, penggunaan alat pelindung telinga sederhana seperti penyumbat busa dinilai kurang efektif karena hanya mampu meredam sekitar 10 desibel. Langkah preventif paling logis bagi masyarakat, terutama kelompok rentan adalah menjauhi lokasi acara.

Indra menambahkan, pihak turut berupaya menghadirkan solusi taktis di tengah ramainya sound horeg. UMM menyediakan kelengkapan instrumen ukur kebisingan yang bisa digunakan untuk pemetaan zona aman di lingkungan warga.

"UMM memiliki alat pengukur suara yang sangat memadai, sehingga kami dari Fakultas Kedokteran sangat siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun institusi terkait guna memetakan jarak aman agar hiburan seni tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat," tandasnya.