Prof Widiatmaka berpandangan, kekeringan memang dapat menjadi pemicu kuat, terutama ketika pasokan air berkurang dan penguapan meningkat. Namun, kontribusi kekeringan maupun perubahan iklim terhadap kejadian tersebut masih perlu dibuktikan melalui data lapangan dan riwayat hujan.

Aktivitas manusia juga dapat mempercepat proses pengeringan. Ia mengatakan, pembukaan lahan dapat mengurangi naungan, sementara perubahan drainase, pengambilan air, maupun aktivitas pertambangan berpotensi mengubah kondisi tata air. Meski demikian, keterlibatan aktivitas tersebut pada kasus ini belum terbukti.

Ia menilai retakan tanah tidak selalu merupakan ancaman lingkungan. Namun, jika retakan terjadi berulang, meluas, disertai penurunan permukaan tanah, kematian vegetasi, atau berkurangnya sumber air, kondisi tersebut perlu diteliti lebih lanjut.

"Retakan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ancaman serius. Kondisi tanah, air, dan penggunaan lahannya perlu diperiksa terlebih dahulu," pungkasnya.