Karena itu, kesadaran terhadap potensi kaskade bencana perlu dimasukkan dalam setiap kebijakan pembangunan infrastruktur dan tata ruang.

"Oleh karenanya sangat disarankan pergeseran dari strategi mitigasi tunggal menuju pendekatan multi-bahaya yang terpadu adalah sebuah keharusan moral dan profesional. Keberhasilan sebuah kebijakan resiliensi tidak lagi diukur dari kemampuan sebuah gedung untuk tetap berdiri tegak pasca-guncangan, melainkan dari kemampuan sistem kota secara keseluruhan untuk mempertahankan fungsi-fungsi vitalnya di tengah rangkaian kegagalan yang saling bertautan. Negara tidak boleh lagi menawarkan rasa aman palsu kepada publik melalui kebijakan yang hanya menyentuh permukaan risiko," beber Prof Amien.

Amien mengatakan pembangunan ketangguhan menghadapi bencana tidak selalu harus dimulai dari nol. Menurutnya, berbagai wilayah rawan bencana di Indonesia telah memiliki kearifan lokal yang terbentuk dari pengalaman menghadapi bencana.

Salah satunya adalah masyarakat Simeulue, Aceh, yang memiliki pengetahuan lokal menghadapi tsunami.