"Masyarakat Simelue beradaptasi hasil belajar kejadian tsunami yang sering melanda pulau sejak tahun 1900. Masyarakat mengembangkan sistem deteksi dini berbasis kearifan lokal yang mereka sebut semong. Teriakan SMONG berarti air laut surut dan harus segera lari menjauh dari pantai menuju bukit," katanya.

Menurutnya, kearifan tersebut terbukti membantu masyarakat Simeulue menghadapi tsunami 26 Desember 2004.

Ia menilai pengalaman kebencanaan masyarakat di berbagai daerah perlu ditelusuri dan dikembangkan sebagai bagian dari strategi mitigasi.

"Antisipasi satu-satunya jalan menuju ketangguhan," pungkasnya.