"Belajar dari berbagai bencana di Indonesia tersebut maka dituntut pergeseran dalam memahami dinamika risiko, beralih dari 'efek domino' yang sederhana menuju pemahaman 'kaskade bencana' yang kompleks. Berbeda dengan efek domino yang bergerak searah, kaskade bencana menciptakan penguatan risiko (risk reinforcement) di mana kegagalan pada satu simpul kritis memicu kelumpuhan simultan pada sistem pendukung kehidupan lainnya," jelasnya.
Ia menambahkan, dampak bencana dapat semakin besar karena adanya interaksi tim redaksi faktor alam, infrastruktur, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
"Kaskade bencana menimbulkan interaksi sistemik dimana risiko tidak muncul dari fenomena alam semata, melainkan dari interaksi destruktif tim redaksi kekuatan geologi, kegagalan infrastruktur teknis, dan kerapuhan sistem sosial-ekonomi," tambahnya.
Menurut Amien, kondisi tersebut membuat risiko bencana tidak sekadar bertambah, tetapi dapat berlipat ganda.
"Ketika infrastruktur air hancur bersamaan dengan munculnya kebakaran hebat, kemampuan pertahanan kota tidak hanya berkurang, tetapi tereliminasi sepenuhnya. Standar perencanaan wilayah dan kode bangunan saat ini (seperti standar SNI terkait beban gempa) sering kali terjebak dalam 'Single-Hazard Trap'. Standar ini sangat sempit karena hanya berfokus pada ketahanan struktur terhadap guncangan, namun buta terhadap efek simultan seperti likuifaksi atau banjir pasca gempa," urainya.