NADIKABAR.COM — Kapal penumpang Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa. Kapal yang hilang kontak saat membawa 243 orang menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Pakar Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Dhimas Widhi Handani ST MSc mengatakan pergerakan kapal terekam secara rinci di Stasiun Automatic Identification System of ITS (AISITS).

Dimas memaparkan, data pergerakan kapal yang diterima Remote Base Station (RBS) dan server AISITS menyebutkan bahwa kapal itu tercatat bertolak dari Terminal Jamrud Selatan pada Sabtu (12/9) pukul 10.00 WIB.

Ketika berada di area pelabuhan, kapal bergerak dengan kecepatan 0,3 hingga 3,5 knots sebelum akhirnya memasuki Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

"Setelah memasuki APBS, laju kapal meningkat hingga 12 sampai 14 knots. Setibanya di sekitar Karang Jamuang pada pukul 12 siang, kapal melaju konstan di angka 13 hingga 14 knots. Dari server AISITS, perjalanan kapal melanjut ke arah timur laut menuju Banjarmasin, Kalimantan," kata Dimas, Minggu (13/9/2026).

Stasiun AISITS mencatat sinyal terakhir KM Virgo Transport 8 pada pukul 22.33 WIB dengan kecepatan 12,9 knots di Karang Jamuang, Selat Madura. Setelah itu data pergerakan kapal tidak lagi tercatat ke sistem.

Dhimas menyebut hilangnya data ini dapat terjadi karena posisi kapal sudah keluar dari jangkauan stasiun pelaporan AISITS.

"Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa perangkat AIS transponder di kapal berhenti mengirimkan data," ujar Dosen Departemen Sistem Perkapalan ITS tersebut.

Dimas yang juga Kepala Laboratorium Keandalan dan Keselamatan ITS itu menjelaskan data historis pergerakan kapal sangat krusial dalam mengidentifikasi insiden di laut.

Informasi ini bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kapal yang melanggar jalur atau berhenti di area terlarang seperti kawasan pipa bawah laut dan offshore platform.

Selain mendukung investigasi kecelakaan, AISITS dibekali sejumlah fitur unggulan seperti early warning system, ship tracking system, fuel oil monitoring, dan smart buoy monitoring. Sistem ini juga memuat predictive maneuvering plan, informasi cuaca, hingga peta kepadatan lalu lintas kapal (heat maps).

Seluruh peringatan dini itu dapat dipantau secara langsung melalui aplikasi maupun command center di tepi pantai.

"Pihak terkait dapat memantau kondisi lalu lintas secara cepat guna mencegah potensi gangguan keamanan fasilitas vital. Penggunaan AISITS juga memberikan keunggulan taktis bagi pemangku kepentingan dalam mengawasi perairan Nusantara," jelasnya.

Penerapan teknologi AISITS ini turut mendukung komitmen global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pilar ke-9 terkait inovasi infrastruktur maritim serta pilar ke-14 dalam perlindungan ekosistem laut.