NADIKABAR.COM — Pakar kesehatan masyarakat Dr.dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK. menyampaikan bahwa kebiasaan makan bersama keluarga berkaitan dengan pembangunan kecerdasan intelektual maupun emosional anak.

Menurut dia, kebiasaan makan bersama keluarga memungkinkan pemenuhan aspek-aspek penting dalam membangun kecerdasan anak, yakni nutrisi, stimulasi emosi, dan sosialisasi.

"Ada begitu banyak wisdom yang diberikan Tuhan dari perilaku makan ini. Ketika kita memberlakukan perilaku makan yang baik pada anak kita bisa nembak sekaligus tiga jalur itu," katanya dalam diskusi bertajuk "Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal" di Jakarta, Kamis.

Pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, nutrisi dari makanan sehat bergizi seimbang yang disajikan saat makan bersama keluarga bisa memenuhi kebutuhan biologis untuk menunjang pembangunan kecerdasan intelektual.

Kebiasaan makan bersama keluarga juga menghadirkan momentum untuk menstimulasi kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak.

Orang tua bisa membiarkan anak mengambil makanan sendiri, mengajak anak mengobrol, merespons celotehan anak, atau mengajari anak berbagi untuk menstimulasi kemampuan dasar anak.

Di samping itu, anak-anak bisa belajar bersosialisasi selama makan dan berinteraksi bersama anggota keluarga yang lain.

Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim mengatakan bahwa makan bukan hanya proses pemenuhan kebutuhan tubuh manusia.

"Mengutip sahabat saya Prof. Komaruddin Hidayat, dia bilang makan adalah peristiwa sosial. Jadi bukan cuma makan doang. Makan apa? Bersama siapa? Jumlahnya bagaimana? Itu semua bisa membuat kita happy," katanya.

"Pernah enggak kita tidak nafsu makan meski kita sendirian? Kebayang tidak kalau anak tidak belajar ini dan orang tua malah cuekin, dia sibuk sama HP-nya?" ia menambahkan.

Dokter Ray mengatakan bahwa anak-anak bisa mempelajari nilai-nilai sosial penting dari interaksi antara ayah, ibu, dan anggota keluarga yang lain saat makan bersama keluarga.

"Dengan cara seperti itu, apalagi kalau makan makanan bersama keluarga sambil ngobrol dan tanpa intervensi HP dan tidak ada gadget, maka perilaku ini akan di-copy-paste sama anak," katanya.

"Di sini kesempatan kita untuk ngasih banyak sekali injeksi wisdom, injeksi nilai dari perilaku sesimpel makan bersama," ia menambahkan.

Ia mengatakan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan orang tua untuk mengupayakan minimal sekali dalam sehari makan bersama anak di meja makan.