Ia menilai persoalan keamanan siber Indonesia tidak cukup ditangani dengan pendekatan reaktif atau menunggu serangan terjadi. Pemerintah perlu mengubah paradigma pertahanan siber menjadi lebih antisipatif dan mampu mendeteksi ancaman sejak dini.

Ardi menyebut ancaman spionase modern telah berkembang jauh melampaui metode penyadapan komunikasi konvensional. Operasi intelijen asing kini dapat memanfaatkan serangan siber yang terstruktur untuk menembus sistem dan mengakses informasi strategis.

Pakar siber juga menyoroti kerentanan rantai pasok teknologi yang digunakan pemerintah. Menurutnya, penyusupan dapat dilakukan melalui proses pengadaan maupun perangkat teknologi yang menjadi bagian dari infrastruktur digital.

Ardi mengingatkan, persoalan keamanan siber juga berkaitan dengan lemahnya koordinasi dan pemahaman risiko di kalangan penyelenggara negara.