Pameran tersebut juga mendokumentasikan krisis kemanusiaan yang berlangsung di Gaza, serta berbagai persoalan akibat krisis iklim di Filipina, Kepulauan Pasifik, dan sejumlah wilayah lain di dunia.
Menurut dia, keterkaitan antara satu isu dengan isu lainnya menjadi bagian penting dalam penyusunan pameran. Pengunjung diharapkan dapat melihat bahwa berbagai persoalan global tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan.
"Sebagai kurator, sangat penting bagi saya untuk memastikan bahwa saya menciptakan sebuah alur cerita," katanya.
Dia mencontohkan isu yang terjadi di Afghanistan dapat berkaitan dengan peristiwa dan kebijakan di AS, demikian pula sebaliknya.
Oleh karena itu, penempatan foto dan penyusunan alur pameran dirancang agar pengunjung dapat memahami keterkaitan antarkisah sekaligus merasakan dampak kemanusiaan yang dihadirkan melalui foto.
Dia mencontohkan karya fotografer Saber Nuraldin tentang Gaza yang menurutnya dapat membantu pengunjung memahami skala dan besarnya krisis kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Gaza.
Terkait relevansi pameran dengan masyarakat Indonesia, ia menyebut Jakarta menjadi satu-satunya lokasi di Asia Tenggara yang tahun ini menjadi tempat penyelenggaraan World Press Photo.
"Ini merupakan sebuah keistimewaan untuk dapat menjadi tuan rumah pameran seperti ini, membicarakan isu-isu tersebut dan melihat foto-foto pemenang di satu-satunya tempat di Asia Tenggara yang saat ini menampilkan pameran ini," katanya.