Setelah diaduk dan didiamkan selama 21 hari hingga satu bulan, adonan pupuk tersebut tidak dijemur secara konvensional, melainkan dibawa ke fasilitas istimewa yang jarang dimiliki petani di Indonesia, yaitu ruang pengering berpemanas uap dari perut bumi.
Istilah teknis Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pun merambah ke dalam kosakata para petani. Di sepanjang jaringan pipa PLTP Kamojang, terpasang steam trap, katup yang membuang kondensat dan kelebihan uap agar aliran menuju turbin tetap kering. Sisa energi panas bersuhu sekitar 60 hingga 70°C itu dialirkan melalui pipa-pipa kecil di dalam ruang tertutup untuk mengeringkan adonan pupuk organik basah. Pupuk hasil racikan kotoran hewan dan hijauan ini dinamai GeO-Fert.