NADIKABAR.COM — Hendro berjongkok di antara bedeng cengek, lalu memetik sebutir buah yang masih hijau. “Kalau cengek domba, bentuknya menyerupai tanduk,” ujarnya. Sementara varietas di bedeng sebelah, yaitu cengek stroberi, memiliki bentuk yang lebih buntet seperti buah stroberi.

Di lereng Kamojang, kawasan perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat, masyarakat Sunda mengenal cabai rawit dengan sebutan cengek. Sebagian besar hasil panen cengek milik Hendro dibeli oleh pengepul.

Lahan yang digarap Hendro bersama Kelompok Tani Hutan Cikondang memiliki luas sekitar 100 tumbak atau setara 1.400 meter persegi. Cabai rawit di lahan tersebut baru empat kali dipanen. Panen pertama menghasilkan 6 kilogram, lalu 8 kg, 14 kg, dan terakhir 18 kilogram. Hendro memetik hasil kebunnya ini seminggu sekali.

Di bedeng lain, kentang ditanam secara tumpang sari di sela-sela cabai keriting yang masa panennya hampir usai. Begitu masa panen cabai keriting berakhir, tanah tidak akan dibiarkan menganggur karena tanaman kentang sudah mulai berumbi.

Hendro adalah petani muda lulusan SMK yang dijuluki local hero oleh PGE Area Kamojang. Gelar itu disematkan kepadanya karena ia merupakan mitra binaan program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang yang tak segan membagikan ilmunya kepada petani lain.

Kerja kerasnya terlihat nyata di ujung lahan, tempat sebuah gudang fermentasi berdiri. Di sana, ia mencampur kotoran ayam, sapi, dan domba bersama jerami, pangkasan daun kidayang, hingga sisa panen kubis dengan perbandingan 1:1 antara kotoran dan hijauan.

Setelah diaduk dan didiamkan selama 21 hari hingga satu bulan, adonan pupuk tersebut tidak dijemur secara konvensional, melainkan dibawa ke fasilitas istimewa yang jarang dimiliki petani di Indonesia, yaitu ruang pengering berpemanas uap dari perut bumi.

​Istilah teknis Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pun merambah ke dalam kosakata para petani. Di sepanjang jaringan pipa PLTP Kamojang, terpasang steam trap, katup yang membuang kondensat dan kelebihan uap agar aliran menuju turbin tetap kering. Sisa energi panas bersuhu sekitar 60 hingga 70°C itu dialirkan melalui pipa-pipa kecil di dalam ruang tertutup untuk mengeringkan adonan pupuk organik basah. Pupuk hasil racikan kotoran hewan dan hijauan ini dinamai GeO-Fert.