β€œKalau saya melihat dari sisi ekonomi kreatif, mimpinya nanti semakin banyak novel atau tulisan yang diterbitkan dalam aksara daerah. Pasarnya besar karena penutur bahasa daerah jumlahnya jutaan. Kalau aksara dan bahasa daerah bisa menjadi sumber ekonomi, akan muncul peluang dari menulis, penerbitan, pemasaran, hingga membuka lapangan usaha dan lapangan kerja,” ujar Neil.

Menurutnya, penggunaan domain beraksara lokal juga dapat memperkuat ekosistem tersebut.

β€œIDN .id ini juga bisa menjadi menarik. Misalnya sebuah website di Jawa atau Yogyakarta memang menyasar masyarakat lokal berbahasa Jawa, bisa saja menggunakan aksara mereka sendiri. Nantinya bisa berjalan berdampingan, ada versi Latin dan ada versi IDN,” tambahnya.

PANDI juga mendorong dukungan Pemerintah Aceh dalam penguatan regulasi dan kebijakan, koordinasi dengan komunitas, akademisi, dan praktisi Aksara Jawi, serta peningkatan sosialisasi dan penggunaan Aksara Jawi di masyarakat maupun lingkungan pemerintahan.

Pengembangan TLD IDN Aksara Jawi selanjutnya membutuhkan kajian terkait konsistensi penulisan, penggunaan karakter Unicode, potensi kemiripan antar-karakter, serta kesiapan Universal Acceptance agar domain beraksara non-Latin dapat digunakan dengan baik pada situs web, aplikasi, email, dan layanan digital lainnya.