NADIKABAR.COM β Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) bersama Pemerintah Provinsi Aceh membahas peluang aksara Jawi atau Arab Melayu untuk dimanfaatkan di ruang digital sebagai bagian dari nama domain internet.
Pertemuan digelar antara Ketua PANDI Isnawan bersama dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Dedy Yuswadi membahas pengembangan domain beraksara lokal bukan hanya persoalan teknologi, tetapi bagian menjaga keberagaman bahasa dan aksara di ruang digital.
"Internet seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan bahasa dan aksara yang mereka kenal. Melalui IDN, kita ingin agar kekayaan aksara Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat hidup dan digunakan dalam ekosistem digital,β ujar Isnawan dalam keterangannya yang diterima dan dikonfirmasi, Senin.
Isnawan mengatakan PANDI tengah mengkaji pengembangan Internationalized Domain Name (IDN) pada tingkat Top-Level Domain (TLD) dengan sejumlah kemungkinan representasi, antara lain nama Indonesia, Indo, maupun Nusantara dalam aksara Jawi.
Kajian mencakup aspek kebahasaan, teknis, kebijakan internet global, kebutuhan pengguna, hingga kesiapan ekosistem digital.
Aksara Jawi sendiri memiliki sejarah panjang di Aceh dan berbagai wilayah Nusantara, mulai dari kemunculannya di naskah keagamaan, sastra, administrasi, hingga dokumentasi sejarah.
Karena itu, PANDI menilai keterlibatan pemerintah daerah, akademisi, komunitas, serta praktisi penting untuk memastikan bentuk aksara yang digunakan memiliki dasar kebahasaan yang kuat dan diterima masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi, AP. menyampaikan komitmen Pemerintah Aceh untuk menindaklanjuti rencana tersebut melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk dari sisi regulasi.
βKami akan menindaklanjuti rencana ini melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk menyiapkan aspek regulasi. Tinggal kita siapkan draftnya dan kita tindak lanjuti terus, sehingga tahun depan kita sudah bisa bergerak,β ujar Dedy Yuswadi.
Sebagai referensi regional, Malaysia telah lebih dahulu menggunakan IDN ccTLD .Ω ΩΩΨ³ΩΨ§ yang merepresentasikan nama Malaysia dalam aksara Arab dan dikelola oleh MYNIC.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa identitas negara dapat direpresentasikan pada tingkat domain teratas menggunakan aksara non-Latin.
Potensi pengembangan aksara daerah di ruang digital juga dilihat dari perspektif ekonomi kreatif. Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam menilai digitalisasi aksara daerah dapat membuka pasar baru bagi karya kreatif sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.
βKalau saya melihat dari sisi ekonomi kreatif, mimpinya nanti semakin banyak novel atau tulisan yang diterbitkan dalam aksara daerah. Pasarnya besar karena penutur bahasa daerah jumlahnya jutaan. Kalau aksara dan bahasa daerah bisa menjadi sumber ekonomi, akan muncul peluang dari menulis, penerbitan, pemasaran, hingga membuka lapangan usaha dan lapangan kerja,β ujar Neil.
Menurutnya, penggunaan domain beraksara lokal juga dapat memperkuat ekosistem tersebut.
βIDN .id ini juga bisa menjadi menarik. Misalnya sebuah website di Jawa atau Yogyakarta memang menyasar masyarakat lokal berbahasa Jawa, bisa saja menggunakan aksara mereka sendiri. Nantinya bisa berjalan berdampingan, ada versi Latin dan ada versi IDN,β tambahnya.
PANDI juga mendorong dukungan Pemerintah Aceh dalam penguatan regulasi dan kebijakan, koordinasi dengan komunitas, akademisi, dan praktisi Aksara Jawi, serta peningkatan sosialisasi dan penggunaan Aksara Jawi di masyarakat maupun lingkungan pemerintahan.
Pengembangan TLD IDN Aksara Jawi selanjutnya membutuhkan kajian terkait konsistensi penulisan, penggunaan karakter Unicode, potensi kemiripan antar-karakter, serta kesiapan Universal Acceptance agar domain beraksara non-Latin dapat digunakan dengan baik pada situs web, aplikasi, email, dan layanan digital lainnya.