NADIKABAR.COM — Petani memanen zaitun di Afrin, Suriah, di tengah keterbatasan air, kenaikan biaya produksi, dan rendahnya harga jual.
Suriah - Petani memanen zaitun di Afrin, Suriah, di tengah keterbatasan air, kenaikan biaya produksi, dan rendahnya harga jual.
Musim panen zaitun kembali berlangsung di Afrin, Suriah, kemarin. Bagi masyarakat Kurdi di kawasan barat laut Suriah tersebut, zaitun menjadi komoditas penting yang menopang penghidupan warga. REUTERS/Orhan Qereman
Para petani memetik buah zaitun dari perkebunan yang menjadi sumber pendapatan mereka. REUTERS/Orhan Qereman
Hasil panen nantinya diolah untuk konsumsi maupun menjadi bahan baku produksi minyak zaitun yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. REUTERS/Orhan Qereman
Namun, musim panen kali ini diwarnai berbagai tantangan. Keterbatasan pasokan air menjadi salah satu kendala dalam menjaga produktivitas kebun. Di sisi lain, kenaikan biaya tenaga kerja dan perawatan tanaman menambah beban yang harus ditanggung petani. REUTERS/Orhan Qereman
Rendahnya harga jual zaitun juga menjadi persoalan. Pendapatan dari hasil panen belum tentu mampu mengimbangi biaya yang dikeluarkan untuk merawat perkebunan hingga masa panen tiba. REUTERS/Orhan Qereman
Kondisi tersebut membuat hasil produksi dan harga jual menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha para petani. Penurunan hasil panen, jika disertai tingginya biaya produksi, dapat semakin menekan pendapatan masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut. REUTERS/Orhan Qereman
Bagi warga Afrin, kebun zaitun tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan tanah leluhur mereka. Karena itu, keberlangsungan perkebunan menjadi bagian penting dalam mempertahankan mata pencaharian warga di tengah berbagai tantangan pertanian. REUTERS/Orhan Qereman