Pengalaman itu menyalakan empati di benaknya: Bagaimana dengan para ibu lain di rumah sakit yang juga membutuhkan pangan sehat?
Pertanyaan tersebut menggerakkannya memanfaatkan lahan seluas enam meter persegi di halaman rumah untuk menanam sayuran organik. Manfaat yang dirasakannya lambat laun terdengar oleh ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya.
Melihat antusiasme yang tinggi, Diyah tergugah untuk memperluas dampaknya. Ia menyewa dan mengolah lahan kosong seluas 1.000 meter persegi di Kelurahan Cemorokandang. Dari sana, ia mendirikan usaha sosial bernama Abang Sayur Organik untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dari sebidang lahan menjadi ekosistem
Lambat laun, ketekunan Diyah mengembangkan pertanian organik mulai membuahkan hasil. Sayuran tidak hanya dipasarkan langsung kepada konsumen atau business to consumer (B2C), tetapi juga merambah pasar business to business (B2B).