Sapi yang digunakan dalam parade mayoritas merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman, termasuk hasil persilangan. Sapi-sapi tersebut telah terlatih untuk kegiatan seperti parade dan bukan diperuntukkan sebagai sapi penggemukan.

Rute parade yang ditempuh sekitar 5,5 kilometer. Selama kegiatan berlangsung, tidak ditemukan laporan sapi sakit maupun mengalami masalah kesehatan hingga garis finis.

Penilaian peserta sendiri mencakup tiga aspek, yakni performa sapi, kreativitas cikar, serta kelengkapan aksesori dan muatan lokal. Produk pertanian dan peternakan Kabupaten Kediri turut ditampilkan pada masing-masing cikar.

Tutik menyebut, saat ini masih terdapat sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Kediri yang memiliki cikar. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan peserta terbanyak, yakni sekitar 10 hingga 11 peserta.

"Harapan ke depan, budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, sehingga generasi sekarang juga mengetahui kebudayaan masa lalu. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi apresiasi bagi para peternak yang terus mempertahankan tradisi sekaligus semangat memelihara sapi," pungkasnya.