NADIKABAR.COM — Masuknya KRI Sriwijaya, eks kapal induk Italia Giuseppe Garibaldi, ke dalam jajaran TNI Angkatan Laut setelah resmi menjalani commissioning merupakan peristiwa bersejarah bagi pembangunan kekuatan maritim Indonesia. Untuk pertama kalinya Indonesia memiliki platform kapal induk yang secara konseptual membuka kemungkinan pengoperasian kekuatan udara dari laut.
Namun, di balik kebanggaan nasional tersebut, terdapat pertanyaan strategis yang belum sepenuhnya terjawab: apakah kapal induk bekas berusia lebih dari empat dekade ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia, atau justru menghadirkan beban operasional dan anggaran yang tidak sebanding dengan manfaatnya?
Sebagian besar argumentasi menempatkan kapal induk sebagai simbol transformasi menuju blue-water navy, instrumen diplomasi, dan peningkatan daya tangkal. Terdapat persoalan lebih mendasar yang patut diuji melalui analisis doktrin, geografi, ancaman, ekonomi pertahanan, dan kesiapan teknis. Setidaknya terdapat enam paradoks yang perlu dicermati.