Dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan ekonomi Aceh antara lain berasal dari sektor konstruksi, perdagangan, dan administrasi pemerintahan. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga.

Sebagai gambaran, ekonomi Aceh mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen (yoy) pada triwulan IV 2025, setelah bencana banjir dan longsor melanda wilayah tersebut.

Agus menjelaskan bahwa bencana banjir dan longsor pada akhir 2025 menyebabkan sejumlah UMKM tutup dan petani kehilangan pekerjaan sehingga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di Aceh. Namun, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dinilai mampu menahan peningkatan pengangguran.

Melalui kegiatan rehabilitasi dan pemulihan lahan pertanian, Agus mengatakan sebagian petani mulai kembali bekerja dan memperoleh pendapatan, meskipun masih ada yang bekerja secara serabutan.

Sementara itu, dari sisi inflasi, BI memperkirakan inflasi Aceh tetap terkendali hingga akhir 2026 dan berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen atau rentang 1,5–3,5 persen.

“Kami masih optimistis walaupun inflasi yoy-nya tinggi, tetapi di akhir tahun Insyaallah kita akan masuk ke rentang target inflasi yang ditetapkan,” ujar Agus.