NADIKABAR.COM — Paus Leo XIV mengunjungi Prancis tujuh bulan sebelum pemilu digelar. Pada misa akbar yang digelar di Paris, sejumlah kandidat kuat pengganti Emmanuel Macron hadir.

Dilansir AFP, Paus Leo XIV pada Sabtu (26/9) memimpin misa terbuka yang dihadiri ratusan ribu umat di Paris. Sebelumnya, ia menaiki mobil kepausan menyusuri jalan ikonik Champs-Elysees, disambut sorak-sorai massa yang membawa bendera Prancis dan Vatikan.

Pemimpin 1,4 miliar umat Katolik dunia itu sedang menjalani kunjungan selama empat hari ke Prancis, negara sekuler dengan akar Katolik yang kuat. Ini merupakan kunjungan resmi kepausan pertama ke Prancis dalam hampir dua dekade.

Paus pertama asal AS itu mengunjungi Prancis tujuh bulan sebelum pemilih menentukan penerus Presiden berhaluan tengah Emmanuel Macron. Kelompok sayap kanan antiimigrasi melihat pemilu tersebut sebagai peluang terbesar mereka untuk merebut kursi kepresidenan.

Sejumlah tokoh yang berpotensi mencalonkan diri sebagai presiden hadir dalam misa tersebut, termasuk pemimpin sayap kanan Marine Le Pen dan politikus berhaluan tengah Edouard Philippe.

Presiden Emmanuel Macron tidak menghadiri misa dan diwakili oleh istrinya, Brigitte.

Pada hari kedua kunjungannya, yang menjadi agenda utama, Paus Leo yang berusia 71 tahun memimpin misa di Place de la Concorde. Sebuah kanopi putih raksasa didirikan sebagai altar sementara. Puluhan layar dipasang agar umat dapat mengikuti misa yang berlangsung selama satu setengah jam.

Kunjungan tersebut membangkitkan antusiasme dan semangat keagamaan yang terlihat di kalangan umat. Doa-doa Paus diiringi musik paduan suara dan organ ketika matahari mulai menembus langit kelabu.

"Benar-benar baik dan menyenangkan ketika saudara-saudari berkumpul dan memuliakan kebesaran Tuhan," kata Paus Leo yang mengenakan jubah liturgi putih.

Vatikan mengatakan sekitar 700 ribu orang berkumpul di sepanjang area lebih dari dua kilometer hingga melewati Arc de Triomphe. Pusat kota ditutup untuk pelaksanaan misa, dengan helikopter berpatroli di udara dan penembak jitu ditempatkan di atas gedung-gedung.

Sejumlah orang yang duduk di trotoar memeluk lutut dan menundukkan kepala dengan khusyuk sambil mendengarkan suara Paus yang menggema di sepanjang Champs-Elysees.

Para orang tua datang dengan kereta bayi dan menggendong anak-anak mereka di pundak, berharap dapat melihat langsung Paus.

Jeanne de Montagnac, 29 tahun, datang bersama suami dan putrinya yang berusia dua tahun. Putrinya duduk di pundak sang ayah, dengan nomor telepon yang ditulis menggunakan pena di lengannya.

"Kami bahagia karena meskipun dia tidak akan mengingatnya, kami bisa berbagi pengalaman ini dengannya," kata Jeanne. Sebuah salib emas kecil tergantung di atas sweater berwarna putih gading yang dikenakannya.

"Ini adalah momen penting bagi kami untuk dikelilingi orang-orang lain yang juga memiliki keyakinan," katanya.

Sebelumnya pada hari yang sama, Paus bertemu dengan para migran saat mengunjungi Maison Bakhita, sebuah organisasi yang mendukung para pengungsi. Leo mengatakan "memungkinkan bagi kita untuk saling bertemu dan hidup bersama dalam martabat dan perdamaian".

Ia juga menekankan "peran fundamental perempuan dalam membangun peradaban cinta".

Organisasi tersebut mengatakan kunjungan Paus mengirimkan sebuah "pesan" menjelang pemilu pada April-Mei.

Pada Jumat (25/9), sekitar 300 ribu orang diperkirakan datang untuk melihat Paus saat ia melambaikan tangan dari mobil kepausan dalam perjalanan menuju Katedral Notre Dame.

"Ada semangat yang mengingatkan pada apa yang dirasakan lebih dari 40 tahun lalu bersama Yohanes Paulus II," kata Francois Mabille, direktur Geopolitical Observatory on Religion, kepada stasiun televisi RMC.

Pada Jumat, Paus Leo menekankan perlunya etika untuk menghindari "surga mesin" yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI). Di tengah perang yang memasuki tahun kelima di Ukraina, ia juga mendesak Prancis untuk tetap menjadi "juara perdamaian yang tak kenal lelah".

Ia juga mengatakan kepada kaum muda di sebuah stadion di luar Paris pada Jumat malam bahwa mereka adalah "orang-orang kudus Prancis".

Pada Sabtu malam, Paus Leo akan menuju Lourdes, kota di barat daya Prancis. Menurut tradisi Katolik, Perawan Maria menampakkan diri di sebuah gua di sana pada 1858 kepada seorang gadis petani.

Pada Minggu (27/9), ia akan berbicara dengan tujuh korban kekerasan seksual oleh anggota klerus.

Sebuah penyelidikan pada 2021 menemukan bahwa sekitar 330 ribu orang yang masih di bawah umur menjadi korban kekerasan oleh anggota klerus atau umat awam Gereja di Prancis selama tujuh dekade.

Dalam agenda terakhir kunjungannya, yakni di Metz pada Senin (28/9), Leo dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai perdamaian di Eropa.