Hasto juga mengatakan sampah organik rumah tangga akan diolah di tingkat RT melalui program yang ia sebut TEBA.
"Kita olah, kami akan membuat TEBA. TEBA itu sampah organik dimasukkan di situ. Bagi yang ikut webinar nanti yang perlu nanti kami berikan datanya. Termasuk diberikan biodekomposer agar sampahnya tidak berbau, sampah organik rumah tangga itu agar tidak berbau," ujar Hasto.
Hasto menautkan gerakan itu dengan tata ruang dan moratorium hutan.
"Maka politik tata ruang, moratorium hutan-hutan kita harus dilakukan. Tidak boleh ada konversi lahan pertanian untuk kepentingan lain karena itu menyangkut masa depan anak cucu kita. Kita harus berdaulat di bidang pangan," katanya.
Ia juga menyebut Pekan Peduli Sampah Nasional akan menjadi ajang berbagi pengalaman kepala daerah dari partainya.
"Termasuk Bu Risma di dalam mengelola sampah, mengelola lingkungan, membuat taman-taman kota, politik tata ruang, kemudian penggunaan teknologi," ujar Hasto.
Dalam forum yang sama, penggerak lingkungan M. Zamroni menceritakan pengalaman mengelola sampah sejak 1999 melalui Tunas Hijau. Ia mengaku baru sadar soal sampah setelah mengikuti pertukaran pemuda ke Australia.