Sekembalinya dari Australia, ia bersama tim mulai mengajak warga membuang sampah pada tempatnya, dengan menjadikan saku sebagai tempat sampah sementara dan meminimalkan penggunaan air mineral kemasan sekali pakai. Sejak 2002, ia menggarap anak-anak dan remaja melalui akademi Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup.
"Ada yang sejak pandemi bahkan 2020 itu satu anak dengan keluarganya itu mengolah sampah organik 125 kilogram dalam sehari. Di rumah," ujarnya.
Ia juga menyebut ada siswa sekolah dasar yang mengolah 110 kilogram sampah organik sehari, sehingga sebulan mencapai 3,3 ton.
Zamroni juga bersinggungan dengan Tri Rismaharini dalam sesi itu. Ia menyoroti sulitnya mencari lahan untuk menanam pohon di Surabaya karena harga tanah yang mahal.
"Kalau Surabaya tanam pohon itu mahal. Ibaratnya kalau mau tanam pohon ya mesti seyogianya beli tanahnya juga. Kalau tanah di Surabaya kok ada Rp2 juta per meter," katanya, lalu menyebut harga pohon hanya sekitar Rp25.000. "Pohonnya murah Rp25.000 tapi mau ditaruh dimana?" ujarnya.
Risma yang merupakan mantan Wali Kota Surabaya dan mengikuti acara langsung angkat suara. "Kontak saya ya kalau butuh lahan untuk menanamnya, nanti ayo kita kerjakan bersama-sama," ujar Risma.