"Tetapi yang paling penting dari cerita ini adalah ketika kita membangun suatu ide imajinasi bahwa kita bisa secara berdikari bergotong royong dengan komunitas yang ada di sekitar kita melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan ternyata itu juga mendatangkan suatu rahmat bagi peningkatan taraf kehidupan itu," ujarnya.
Hasto menilai gerakan berbasis komunitas itu membuka ruang pekerjaan bagi rakyat tanpa merusak lingkungan. "Sehingga kami berimajinasi, kita bisa menciptakan pekerjaan secara massal bagi rakyat tanpa merusak lingkungan," imbuhnya.
Model itu dinilai relevan di tengah kebutuhan lapangan kerja. Pemerintah menargetkan 19 juta lapangan kerja baru dengan Menteri Ketenagakerjaan optimistis target itu tercapai pada 2029.
Di Malang Selatan jalur yang ditawarkan berbeda: pekerjaan yang lahir dari merawat lingkungan, mulai dari pemandu wisata, pembibitan dan perawatan mangrove, pengolahan sampah, produksi suvenir, hingga silvofishery, sistem budidaya perikanan berkelanjutan di wilayah pesisir yang menggabungkan usaha perikanan (seperti tambak ikan bandeng, udang, atau kepiting) dengan penanaman dan pelestarian hutan mangrove dalam satu kawasan.
Sementara itu, Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo menyebut apa yang dibangun komunitas di Malang Selatan justru punya nilai ekonomi yang selama ini luput dari perhitungan. Ia menceritakan pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia di Washington pada April lalu, ketika muncul pertanyaan dari pembeli karbon soal unit yang berbasis komunitas.
"Mereka kemudian menanyakan itu adalah dari Nvidia, Nvidia itu salah satu perusahaan AI terbesar, dan Tencent mengatakan, apakah di Indonesia itu tidak ada yang berbasis komunitas?" ujarnya.