Andreas menyebut jawabannya adalah menyatukan komunitas-komunitas kecil. "Karena kalau hanya skala, ya, yang kecil-kecil ini kalau dikumpulkan kan jadi besar," katanya. Ia menambahkan, nilai ekonomi karbon dari kawasan itu selama ini belum pernah dibayar. "Karena satu ton CO2 paling rendah dinilai sekarang dengan 20 dolar," ujarnya.
penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC) Saptoyo memaparkan perjalanan kawasan Pantai Clungup. Kawasan itu pernah rusak parah dengan pembalakan pada 1998-2003, dan pemulihan dimulai 2005 secara simpatisan. Menurutnya, ekowisata mempercepat pemulihan lahan secara signifikan.
"Kalau kami rehabilitasi hanya nanam saja Pak, kami satu tahunnya itu dapat 5,5 hektar, nanam doang. Kemudian coba diintervensi oleh anak-anak muda dan akhirnya 10 tahun berikutnya kami bisa menyelesaikan tiap tahunnya 10,3 hektar dengan melibatkan pariwisata," katanya.
Saptoyo menyebut penanaman di 81 hektare mangrove sudah tuntas pada 2026. "Kita tinggal menunggu besarnya saja, merawat. Konsennya merawat, penanaman sudah selesai," ujarnya.
Penghitungan serapan karbon 2021 bersama Universitas Gadjah Mada mencatat 3.856 ton dari pohon ke atas, sementara kerja sama dengan Universitas Brawijaya mencatat 5.285,26 ton dari tanah ke bawah.
Rangkaian kegiatan berlanjut Sabtu (17/10) dengan Deklarasi Komunitas Penggiat Lingkungan Mangrove, open talk bersama anak muda, nelayan, dan ibu-ibu, webinar komunitas penggiat lingkungan, serta aksi menanam mangrove dan memungut sampah di sekitar kawasan CMC.