Menurutnya, hal tersebut penting agar generasi penerus memahami bahwa setiap proses kepemimpinan membutuhkan pengaderan yang matang, bukan instan.

"Di sana kita belajar bagaimana Pancasila, dasar negara, supaya jangan kita buat pelanggaran terhadap konstitusi, kan? Jadi kita sadarkan kepada generasi muda bahwa semua berproses, tidak ada yang jatuh dari langit. Supaya suatu ketika mereka jadi pejabat, mau jadi presiden, wakil presiden, harus siap, tidak bisa dipaksa. Nanti bikin rusak negara itu," tegasnya.

Lebih lanjut, ketika disinggung mengenai potensi adanya gap atau kesenjangan komunikasi antara kalangan elite politik tua dengan realitas kaum muda masa kini, yang sering kali berujung pada aksi turun ke jalan, Komarudin mengakui adanya jarak tersebut.