"Yang paling saya benci adalah terjatuh dan tidak mendapatkan poin. Jika saya ingin mengejar peringkat ketiga di Kejuaraan Dunia, saya harus mengumpulkan poin sebanyak mungkin. Saya rasa saya akan pergi dari KTM dengan perasaan yang jauh lebih lega jika berhasil mencapai target tersebut," tegasnya.
Performa impresif Acosta yang kerap mengasapi pebalap KTM lainnya dengan selisih hingga puluhan detik diyakini berkat perubahan atmosfer di dalam garasi. Komunikasi yang lebih terbuka serta kedewasaannya dalam menerima masukan menjadi kunci kebangkitan tim.
"Saya senang karena tim tidak memasukkan tuntutan saya ke dalam hati. Saya juga merasa kini bisa menerima kritik dengan jauh lebih baik dibanding setahun lalu. Ini membantu kita semua untuk berkembang," jelasnya.