"Menjadi sebuah industri hiburan rakyat dengan perangkat suara yang semakin besar, kendaraan parade yang semakin spektakuler, komunitas penggemar, bahkan muncul identitas dan gengsi di antara para pemilik sound system," tambahnya.
Di sisi lain, sound horeg memang menjadi hiburan masyarakat bawah, pertunjukan itu turut menghadirkan pergerakan ekonomi yakni pemilik sound, teknisi, pekerja angkut, sopir, pedagang, pelaku UMKM, pekerja kreatif, hingga seniman dan penampil.
"Tetapi persoalannya muncul ketika hiburan kehilangan batas sosialnya. Kebebasan berekspresi tidak berarti bebas mengganggu orang lain. Hak untuk menikmati musik tidak boleh menghilangkan hak orang lain untuk mendapatkan ketenangan, kesehatan dan keselamatan," imbuhnya.
Seniman asal Jawa Timur itu lantas menyoroti persoalan ketika ekspresi kegembiraan lantas berubah menjadi kebisingan ekstrem, merusak lingkungan, membahayakan pengguna jalan, merusak fasilitas, mengganggu rumah sakit, sekolah atau tempat ibadah, serta disertai perilaku lain yang melanggar hukum dan norma sosial.