"Ada intervensi pemerintah dalam bentuk riset yang berjalan setiap bulan, dan hasilnya dibagikan kepada seluruh petani. Mereka juga memiliki pusat penelitian tanah," ungkapnya.

Menurut Iftitah, pendekatan tersebut memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Setiap kawasan transmigrasi memiliki karakteristik lahan, iklim, dan potensi komoditas yang berbeda sehingga pengembangannya harus didasarkan pada penelitian yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

Teknologi yang diterapkan juga harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk menggunakan, mengoperasikan, dan memeliharanya secara berkelanjutan.

Buka Peluang Investasi di Papua dan Sulawesi

Selain mempelajari teknologi, Iftitah juga mendorong penguatan kerja sama investasi pertanian antara Indonesia dan Tiongkok. Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, mengenai peluang pengembangan kerja sama di bidang pertanian, khususnya di Papua, serta sektor potensial lainnya, termasuk pariwisata.

"Saya sudah berdiskusi dengan Duta Besar Wang Lutong, dan kami berdua sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang pertanian di Papua, serta industri lain seperti pariwisata," tuturnya.

Menurut Iftitah, kerja sama tersebut diharapkan dapat mempertemukan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, pengalaman industri, investasi, dan akses pasar Tiongkok. Ia juga melihat peluang besar pengembangan komoditas unggulan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional, termasuk pasar Tiongkok.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah durian, yang memiliki potensi dikembangkan lebih lanjut di Sulawesi melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan penguatan rantai pasok.

"Tiongkok membutuhkan banyak durian. Anda bisa membawa investasi ke Indonesia, menanam durian di negara kami, misalnya di Sulawesi, dan mari kita nikmati durian tersebut bersama-sama," ujar Iftitah.

Menurutnya, kerja sama investasi perlu diarahkan untuk membangun kegiatan ekonomi di daerah penghasil komoditas, bukan sekadar memperbesar perdagangan bahan mentah. Hadirnya teknologi budidaya, industri pengolahan, fasilitas penyimpanan, dan jaringan pemasaran, masyarakat diharapkan memperoleh kesempatan lebih luas untuk bekerja dan meningkatkan pendapatan.

Iftitah juga menekankan bahwa investasi asing harus memberikan manfaat melalui transfer pengetahuan dan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan usaha dan meningkatkan kemampuan ekonominya secara mandiri.

Teknologi untuk Menjawab Persoalan Nyata di Kawasan Transmigrasi

Iftitah menilai pengalaman Chongqing dapat menjadi referensi dalam mengembangkan solusi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia. Salah satu contohnya adalah pengembangan pertanian dan agroforestri di kawasan transmigrasi Barelang, khususnya Rempang, Kota Batam.