"Setiap event running kostum jersey-nya baru, tiap event komunitas riders punya kostumnya masing-masing. Nah, itu demand-nya sangat tinggi," kata Bryan.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memproduksi pakaian dalam jumlah terbatas sesuai pesanan, tanpa harus mengandalkan produksi massal.
Perkembangan teknologi juga menjadi salah satu faktor yang mengubah industri apparel di Bandung.
Bryan mengatakan teknologi sablon yang sebelumnya mendominasi mulai berkembang ke teknologi digital seperti Direct-to-Film (DTF) dan Direct-to-Garment (DTG).
Menariknya, teknologi DTG kini mulai kembali diminati. Selain itu, mesin yang mampu melakukan printing langsung pada lembaran kain dalam skala besar juga semakin banyak ditawarkan.
Meski demikian, sebagian besar mesin berteknologi tinggi untuk industri apparel masih berasal dari luar negeri sehingga kondisi nilai tukar dan kebijakan impor dapat memengaruhi biaya bisnis.
Peluang bisnis apparel juga berjalan beriringan dengan meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan atau sustainability.