Teknologi printing kini mulai menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya melalui penggunaan teknologi eco-solvent yang disebut menghasilkan limbah lebih sedikit dan tidak terlalu berbau.
Selain itu, bahan kain berbasis daur ulang mulai digunakan. Sisa kain produksi juga dapat dimanfaatkan kembali melalui konsep upcycle sehingga tidak langsung menjadi limbah.
Meski peluang tetap terbuka, pertumbuhan industri printing tidak sepenuhnya berjalan tanpa tantangan.
Ketua KOPI Grafika Usman Batubara mengatakan kebutuhan teknologi printing masih mengalami pertumbuhan, tetapi lajunya melambat.
"Paling mungkin ada sekitar 3-4 persen aja pertambahan untuk printing ya, untuk kebutuhan printing," ujarnya.
IAPE 2026 sendiri diikuti 20 perusahaan berskala nasional dengan lebih dari 40 merek yang mendukung bisnis produksi pakaian. Pameran tersebut menghadirkan berbagai teknologi, mulai dari kain, sablon, mesin jahit dan bordir, DTG, DTF, mesin cutting, heat press hingga digital printing.
Dengan perubahan tren konsumen dan perkembangan teknologi, custom printing dan print on demand menjadi salah satu peluang yang dapat digarap pelaku usaha apparel di Bandung, khususnya untuk memenuhi kebutuhan komunitas, event, dan pasar fashion yang menginginkan produk lebih personal.