Misi yang berhasil membawa manusia kembali ke sekitar Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima puluh tahun ini menyebabkan perubahan kepadatan elektron ionosfer yang mengakibatkan kesalahan penentuan posisi GPS sementara sejauh beberapa meter.
"Kesalahan penentuan posisi beberapa meter saja sudah cukup untuk menyebabkan mobil self-driving berpindah jalur. Hal ini dapat berdampak besar tidak hanya pada mobil self-driving tetapi juga pada drone," kata salah satu peneliti Charles Lin, dikutip dari Space, Kamis (5/11).
Hal ini bisa terjadi karena receiver GPS setiap saat menentukan posisinya dengan mengukur jarak dari empat satelit GPS yang berbeda. Ketika konsentrasi elektron bebas di atmosfer atas berubah, misalnya selama badai matahari atau setelah lintasan roket, sinyalnya bisa sampai ke Bumi lebih cepat atau lebih lambat, mengakibatkan pengukuran yang tidak akurat.
Sistem Satelit Navigasi Global mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 20.200 kilometer, jauh di atas lapisan ionosfer. Itu berarti, sinyal penentuan posisi, navigasi, dan waktu yang dipancarkan satelit-satelit ini harus melewati lapisan atmosfer yang mudah berubah ini untuk mencapai Bumi.
Namun, durasi gangguan sementara akibat peluncuran roket tidak sepanjang gangguan GPS akibat badai Matahari yang durasinya bisa sampai berhari-hari.