"Rantai dampak berjalan sangat jelas, pekerja kontrak dirumahkan atau pindah, sehingga belanja rumah tangga menurun hampir seketika. Dampaknya langsung terasa pada katering dan logistik tambang, penyewaan kos dan kontrakan, bengkel, warung makan, hingga toko bangunan di sekitar lokasi tambang," kata Fitriansyah.

Di Kabupaten Kutai Timur, empat sektor paling terdampak adalah transportasi dan logistik, katering dan perdagangan, jasa penyewaan alat berat, serta properti sewa.

Omset UMKM di kawasan ini turun berkisar antara 40 hingga 50 persen, sementara warung dan usaha kecil mengalami penurunan sekitar 40 hingga 50 persen. Tiga dari sepuluh kamar sewa yang biasanya ditempati pekerja, kini kosong karena sebagian pekerja diberhentikan.

Tekanan tersebut kemudian merembes masuk ke dalam kehidupan rumah tangga masyarakat. Kehilangan pendapatan tetap, memaksa keluarga mengambil langkah berat, mulai dari menunggak cicilan kendaraan, melepas aset berharga seperti perhiasan dan sepeda motor, hingga anak terpaksa pindah sekolah ke tempat lebih murah atau ikut pindah ke kota lain.