"Oleh sebab itu, sebaiknya makanan itu perlu dirancang berdasarkan kebutuhan dan kesenjangan gizi anak, disertai edukasi gizi yang terintegrasi agar anak tidak hanya memperoleh makanan bergizi, tetapi juga memahami, memilih, dan membiasakan pola makan sehat sejak dini," katanya.
Penelitian dilakukan dengan melibatkan 4.219 siswa berusia 7-18 tahun dari 12 kabupaten/kota di enam pulau di Indonesia. Temuan dari daerah-daerah tersebut ternyata serupa yakni sama-sama kekurangan mikronutrisi.
"Jadi dipergunakan pendekatan 12 provinsi karena sudah dipertimbangkan bahwa di satu provinsi itu sebetulnya regionalisasi, mencakup beberapa provinsi yang pola makannya kurang lebih hampir sama. Kemudian di masing-masing provinsi atau dianggap sebagai regional, sebetulnya bukan provinsi, diambil satu kabupaten. Nah, di satu kabupaten ini kemudian dipilihlah beberapa anak usia sekolah dengan kelompok usianya mulai dari usia 7 sampai 9 dan seterusnya sampai usia SMA ya," kata Deputi Direktur SEAMEO RECFON, Dr dr Brian Sri Prahasastuuti.
Biasanyaefek samping seperti ketidakcocokan pencernaan hingga keracunan makanan akibat hidangan yang asing bagi anak. Oleh karena itu, penggunaan kuliner tradisional dianggap sebagai pilihan paling aman dan efektif.
"Jadi setelah dilakukan kajian di masing-masing daerah, termasuk di dalamnya adalah melihat satu, pola makan dari masyarakat, kemudian pangan lokal yang tersedia di sana. Kemudian berdasarkan hal tersebut, disusunlah menu," kata Brian.