Mari Elka mengatakan kebijakan tersebut sekaligus membuka peluang investasi dan kerja sama internasional dalam pengembangan produksi pangan dan biofuel berbasis lahan terdegradasi.
Lebih lanjut, Mari Elka menjelaskan bahwa peningkatan produksi pangan untuk biofuel juga perlu dilakukan melalui intensifikasi dengan meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan keberlanjutan secara bersamaan.
Menurutnya, upaya tersebut dapat dilakukan antara lain melalui pengembangan benih dengan produktivitas lebih tinggi yang mampu beradaptasi dengan kondisi air yang lebih terbatas dan suhu yang lebih panas, serta penggunaan pupuk dan air secara lebih efisien.
Oleh karena itu, ia menilai diperlukan riset dan pengembangan (R&D) serta kerja sama internasional, termasuk pengurutan genom (genome sequencing) untuk menghasilkan benih yang memiliki hasil panen lebih tinggi, tetapi juga tetap mampu beradaptasi dengan keterbatasan air serta iklim yang lebih panas.
Pemerintah Indonesia terus menggenjot biofuel sebagai bagian dari transisi energi bersih sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.