Menurut Syahril, elevasi bangunan dibuat lebih tinggi daripada jalan lingkungan untuk mengurangi risiko genangan air. Perbedaan ketinggian lahan juga ditangani dengan sistem bertingkat atau trap, disertai penimbunan dan pembatas antarunit.
Dalam pelaksanaan proyek, sekitar 85 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal. Saat ini, terdapat tiga tim dengan total sekitar 30 pekerja di lokasi Padang Sakti, dan jumlah tersebut direncanakan bertambah setelah pemasangan panel berjalan lebih lanjut.
Syahril mengatakan pihak pelaksana juga menyesuaikan jadwal pekerjaan dengan ketentuan adat setempat yang membatasi aktivitas kerja pada hari Jumat. Untuk menjaga percepatan pembangunan, pekerjaan dapat dilanjutkan pada malam hari tanpa mengurangi jam kerja siang.
Pembangunan huntap tersebut diharapkan memberikan tempat tinggal yang layak dan lebih aman bagi masyarakat terdampak bencana, sekaligus mendukung pemulihan kehidupan warga dan menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja di sekitar lokasi pembangunan.