Apabila perusahaan yang sudah tidak berproduksi diambil alih, diperlukan perbaikan peralatan serta kemungkinan penerapan teknologi terbaru agar perusahaan tersebut mampu kembali bersaing.

Sarmuji menilai persaingan industri tekstil global sangat ketat.

Negara-negara produsen seperti China memiliki keunggulan karena didukung mesin produksi yang modern dan relatif baru.

Karena itu, pembentukan BUMN tekstil nantinya diharapkan tidak sekadar menghidupkan kembali perusahaan yang mengalami kesulitan, tetapi juga membangun keunggulan industri melalui modernisasi teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.

β€œKalau mengambil, misalkan kita 'take over' perusahaan untuk diambil alih yang sudah tidak berproduksi, itu tentu harus ada perbaikan equipment-nya, peralatannya kita perbaiki, mungkin juga harus kita injeksi teknologi paling baru supaya hasilnya itu memiliki keunggulan yang besar bagi Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan hingga saat ini belum ada jadwal pasti mengenai realisasi pembentukan BUMN tekstil tersebut.