Bahlil menuturkan pada 2017-2019, nilai ekspor nikel Indonesia hanya 3,3 miliar dolar AS.

Setelah pemerintah menyetop ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak menjadi 34 miliar dolar AS.

Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan.

Ia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.

Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat disampaikannya pada 2020.