NADIKABAR.COM β Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memulai program perlindungan Pantai Utara (Pantura) Jawa untuk mengatasi abrasi, penurunan permukaan tanah, serta menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.
Program ini menjadi langkah penerapan pendekatan perlindungan pesisir yang menggabungkan pembangunan infrastruktur fisik dengan solusi berbasis alam atau nature-based solution.
"Hari ini menjadi momentum dimulainya program perlindungan Pantura Jawa," ucap AHY dalam Demonstration Plotting Perlindungan Kawasan Pesisir Pantai Utara Jawa berbasis Nature-based Solutions di Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah, Senin.
Dia menyampaikan, kawasan Pantura Jawa memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional karena berkontribusi sekitar 28 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Wilayah tersebut juga menjadi lokasi berbagai kawasan industri strategis, kawasan ekonomi khusus, sentra pangan, dan koridor logistik.
Menurut dia, masyarakat pesisir menghadapi ancaman kenaikan permukaan air laut, abrasi, serta penurunan permukaan tanah. Kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Pantura.
ββββββTujuan besar dari pembangunan giant sea wall, termasuk apa yang kita lakukan hari ini, pada akhirnya adalah bagaimana menyelamatkan masyarakat yang terdampak, meningkatnya permukaan air laut dan menurunnya permukaan tanah tadi, sekaligus menjaga agar keberlangsungan hidup dan ekonomi masyarakat kita juga bisa kita jaga bersama-sama,β kata AHY.
Kata dia, program perlindungan tersebut dirancang mencakup kawasan pesisir dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah melalui kombinasi tanggul pantai atau tanggul laut dan pendekatan berbasis alam.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) yang juga Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf menyampaikan kegiatan perlindungan melalui penanaman mangrove yang digelar di Timbulsloko ini turut menjadi percontohan untuk mempelajari kondisi alam setempat.
"Dan syukur alhamdulillah sekarang ini draft rencana induk sudah selesai, dan sekarang sedang diurus untuk pelaksanaan kegiatan perpresnya," katanya.
Didit menegaskan, pembangunan perlindungan pesisir juga perlu memperhatikan keberlanjutan mata pencaharian nelayan dan petambak agar kegiatan ekonomi masyarakat tetap berjalan.
Selain mangrove, kegiatan tersebut turut memanfaatkan hexbricks yang diproduksi masyarakat setempat. Penggunaannya diharapkan dapat membuka lapangan kerja dan menambah penghasilan warga pesisir.