Program itu mencakup rehabilitasi tambak, kolam, dan keramba, bantuan ekskavator, bantuan perebusan garam, serta bantuan sarana pengolahan dan kotak pendingin atau cool box. Pemerintah juga menyalurkan bantuan mesin dan kapal penangkapan ikan serta alat penangkap ikan.

Trenggono turut menyampaikan perkembangan pelaksanaan berbagai program tersebut, termasuk rehabilitasi infrastruktur pelabuhan perikanan yang terdampak bencana.

Selain memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dan perikanan, pemerintah mengebut pembangunan hunian tetap bagi warga yang kehilangan rumah maupun lahan akibat bencana.

Kementerian PKP menargetkan pembangunan 26.036 unit huntap melalui skema relokasi terpusat di tiga provinsi terdampak selama 2026-2027. Dari jumlah tersebut, sebanyak 21.228 unit direncanakan dibangun di Aceh, 3.707 unit di Sumatera Utara, dan 1.101 unit di Sumatera Barat.

Tito menambahkan pembangunan kompleks huntap oleh Kementerian PKP diprioritaskan bagi warga yang kehilangan rumah sekaligus lahan, termasuk masyarakat yang tinggal di kawasan berisiko tinggi atau wilayah yang terdampak sangat parah hingga satu kampung hilang.

"Yang [huntap] kompleks itu dikerjakan oleh PKP ini terutama yang rumahnya, tanahnya sudah habis sudah enggak ada lagi atau di daerah merah, satu kampung hilang otomatis dibangunkan lagi kompleks [oleh] PKP," ujar Tito.