NADIKABAR.COM — Pemerintah menyampaikan program penyediaan rekening massal nantinya akan disertai dengan edukasi keuangan guna mencegah penyalahgunaan rekening.

Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Erdiriyo menilai pembukaan rekening tanpa disertai edukasi berisiko memicu penyalahgunaan, termasuk rekening yang disalahgunakan untuk aktivitas judi daring (judol).

Pemerintah bakal menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menggencarkan edukasi finansial.

"Pembukaan akun yang tanpa disertai dengan edukasi, menurut saya, memang bisa disalahgunakan. Misalnya, akunnya dijual-belikan untuk main judi online, untuk deposit, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan OJK dan Bank Indonesia, serta LPS," kata Erdiriyo dalam konferensi pers Financial Health Pathways Forum, di Jakarta, Kamis.

Erdiriyo menjelaskan penyediaan rekening bersubsidi bakal disertai edukasi mengenai penggunaan layanan keuangan, risiko yang menyertainya, serta cara melindungi rekening agar tidak disalahgunakan.

Project Manager Promise II Impact Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Djauhari Sitorus menyoroti peningkatan akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital yang belum tentu diikuti kemampuan mengelola keuangan.

Ia mengatakan akses terhadap layanan keuangan, termasuk pinjaman daring (pindar), berisiko menimbulkan persoalan baru apabila masyarakat tidak memiliki literasi finansial yang memadai.

"Walaupun seorang itu sudah menggunakan layanan keuangan, tapi belum tentu dia lebih sejahtera. Bahkan ada beberapa situasi mereka yang memiliki akses misalnya ke pinjaman secara online itu, akhirnya terjebak ke dalam utang. Ini jadi bukan meningkatkan kesejahteraan, tapi membuatnya lebih tidak sejahtera," ujar Djauhari.

Djauhari menerangkan kemudahan memperoleh pinjaman tanpa diimbangi kemampuan mengelola keuangan bisa memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga.

Kondisi tersebut, juga meningkatkan kerentanan pekerja dan pelaku usaha kecil ketika menghadapi keadaan darurat atau guncangan ekonomi.

Keberhasilan sektor keuangan perlu diukur tidak hanya dari jumlah masyarakat yang memiliki rekening atau dapat mengakses layanan keuangan, tetapi juga dari kemampuan mereka mengelola keuangan dan mempertahankan ketahanan finansial dalam jangka panjang.

"Sudah waktunya kita bertransisi dari sekadar menghitung berapa orang yang punya rekening, berapa orang yang bisa akses kepada sesuatu yang baru yang sifatnya nanti hasil. Apakah dia bisa mengelola keuangan hari demi hari, apakah dia punya daya tahan keuangan kalau misalnya dia sakit atau bisnisnya bangkrut," ujar dia pula.