NADIKABAR.COM — bondong mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) saat pemilu legislatif digelar pada Selasa (27/10) waktu setempat. Tingkat partisipasi awal untuk para pemilih pun mencetak rekor sebagai yang tertinggi sejak tahun 1981 silam, atau dalam 45 tahun terakhir.

Pemilu legislatif ini akan menentukan nasib Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang merupakan PM terlama di negara tersebut. Para pemilih menyebut pemilu yang digelar di tengah situasi perang ini sebagai yang paling menentukan dalam sejarah negara tersebut.

Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 waktu setempat, dan akan ditutup pukul 22.00 waktu setempat. Hari pemungutan suara ditetapkan sebagai hari libur nasional di Israel. Terdapat total 12.018 TPS di berbagai wilayah, dengan sekitar 18.000 kotak suara disiapkan.

Dalam pemilu kali ini, ada sekitar 7,3 juta orang yang memiliki hak pilih yang sah, termasuk kurang lebih 1,2 juta warga Israel keturunan Palestina. Dari jumlah tersebut, lebih dari setengah juta pemilih di antaranya merupakan pemilih muda yang akan memberikan suara untuk pertama kalinya.

Komisi Pemilu Pusat Israel, seperti dilansir Reuters dan AFP, Selasa (27/10/2026), melaporkan bahwa tingkat partisipasi pemilih dalam tiga jam pertama pemilu Israel yang krusial telah mencapai 16,68 persen. Angka ini tercatat sebagai yang tertinggi pada tahap pemungutan suara sejak tahun 1981 silam.

"Hingga pukul 10.00 waktu setempat, lebih dari 1.200.000 warga Israel telah memberikan suara mereka. Tingkat partisipasi pemilih secara nasional mencapai 16,68 persen," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Komisi Pemilu Pusat Israel, Dean Livne, dalam pernyataan yang disiarkan televisi.

Pemungutan suara ini merupakan pemilu pertama di Israel sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang diikuti oleh rentetan serangan tanpa henti militer Tel Aviv terhadap Jalur Gaza, juga konfrontasi militer dengan Hizbullah di Lebanon dan dengan Iran.

Ini juga menjadi pemilu pertama yang digelar tepat waktu di Israel sejak tahu 1988, setelah selama beberapa dekade pemerintahan yang berkuasa silih berganti runtuh sebelum menuntaskan masa jabatan selama empat tahun.

Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu telah memicu perpecahan di dalam negeri dan semakin mengucilkan Israel di kancah internasional. Namun Netanyahu tetap membela rekam jejaknya dengan mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang berani menghadapi musuh-musuh Israel.

Penantang utama Netanyahu, Gadi Eisenkot -- seorang mantan kepala staf militer Israel yang tenang namun berhaluan keras dalam masalah keamanan -- berupaya melengserkannya dengan dukung dari partai-partai sayap kanan dan tengah, serta sisa kelompok kiri yang terpinggirkan.

Berbagai jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat, dengan keduanya sama-sama menghadapi jalan yang tidak mudah untuk meraih kekuasaan.

Jajak pendapat terakhir, yang dipublikasikan tiga televisi utama Israel sebelum pemilu digelar, memproyeksikan kubu oposisi yang dipimpin Eisenkot akan mengamankan total 52-56 kursi parlemen, sedangkan koalisi sayap kanan dan religius Netanyahu diproyeksikan meraup total 50 kursi parlemen.

Proyeksi itu menunjukkan baik Netanyahu maupun Eisenkot tidak memiliki jalan yang jelas untuk mencapai ambang batas 61 kursi parlemen atau Knesset yang dibutuhkan -- dari total 120 kursi parlemen yang diperebutkan -- untuk bisa membentuk pemerintahan. Memenangkan jumlah kursi parlemen terbanyak tidak secara otomatis menentukan siapa yang akan menjadi PM.

Oleh karena itu, partai-partai yang dipimpin oleh tokoh dan politisi keturunan Palestina dinilai bisa menjadi pemecah kebuntuan. Mereka diproyeksikan meraup total 14-16 kursi parlemen. Negosiasi politik akan menjadi penentu dalam menentukan siapa yang akan menjabat sebagai PM selanjutnya.