NADIKABAR.COM — Presiden Myanmar Min Aung Hlaing tiba di Malaysia pada Rabu (7/10) untuk kunjungan dua hari dan bertemu Perdana Menteri Anwar Ibrahim, di tengah rencana Kuala Lumpur memulangkan ribuan warga Myanmar yang berada di negara itu tanpa dokumen.
Kunjungan tersebut berlangsung ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok hak asasi manusia memperingatkan risiko yang dapat dihadapi para warga Myanmar setelah kembali ke negara yang masih dilanda perang saudara. Malaysia menyatakan sekitar 5.000 warga Myanmar telah menyetujui pemulangan secara "sukarela", sementara hampir 1.500 orang telah tiba kembali di Myanmar pada Minggu (4/10).
Pemerintah Malaysia mengatakan pembicaraan Anwar dan Min Aung Hlaing akan mencakup pemulangan warga Myanmar dari seluruh kelompok etnis secara "sukarela, bermartabat dan aman".
Kunjungan Min Aung Hlaing berlangsung setelah Malaysia meningkatkan upaya memulangkan warga Myanmar. Menurut Anwar, sekitar 10.000 warga Myanmar telah dideportasi dari Malaysia sejak Januari. Media pemerintah Myanmar menyebut jumlah yang dipulangkan tahun ini juga hampir mencapai 10.000 orang.
Malaysia mengatakan pemulangan tersebut bersifat sukarela. Namun, PBB dan kelompok hak asasi mempertanyakan keamanan kebijakan itu karena konflik bersenjata masih berlangsung di Myanmar.
Anwar mengatakan Myanmar harus menjamin keselamatan warga yang kembali.
"Myanmar harus menjamin perlakuan yang layak terhadap rakyat mereka sendiri sehingga tidak ada penyalahgunaan, penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia," kata Anwar kepada parlemen Malaysia.
"Namun bagi saya, negara mana pun yang ingin membawa pulang rakyatnya dari negara kami, kami menyambutnya," tambahnya.
Pemerintah Malaysia mengatakan pembicaraan bilateral juga akan membahas upaya perdamaian melalui mekanisme ASEAN. Kementerian Luar Negeri Malaysia menyebut kedua pemimpin akan meninjau "upaya yang sedang berlangsung melalui mekanisme ASEAN" untuk mencari penyelesaian konflik Myanmar.