Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 100.000 orang dan menyebabkan lebih dari 3,5 juta orang mengungsi, menurut angka yang dikutip Reuters.
ASEAN sebelumnya mengecualikan Min Aung Hlaing dan pejabat senior Myanmar dari pertemuan tingkat tinggi karena pemerintah militer tidak menjalankan peta jalan perdamaian yang disepakati blok tersebut.
Namun, sejumlah negara ASEAN mulai kembali menerima kunjungan Min Aung Hlaing. Malaysia menjadi negara ASEAN kelima setelah Thailand, Laos, Vietnam dan Kamboja yang menyambutnya sejak ia menjadi presiden pada April.
Anwar sebelumnya secara terbuka mengaitkan kunjungan tersebut dengan upaya mempercepat pemulangan warga Myanmar. Dalam sebuah wawancara podcast bulan lalu, ia mengatakan hubungan dengan Myanmar tetap dapat dikembangkan jika Myanmar bersedia menerima kembali para pengungsinya.
"Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa kita bisa menjadi teman dan berdagang. Kita bisa menerima Myanmar, tetapi mereka harus menerima kembali pengungsi mereka," kata Anwar.
Richard Horsey, penasihat senior Asia di International Crisis Group, menilai kebutuhan Malaysia untuk mendapatkan kerja sama Myanmar menjadi salah satu faktor di balik kunjungan tersebut.
"Di bawah tekanan untuk mengirim kembali para pengungsi, Anwar membutuhkan kerja sama Naypyidaw, dan kunjungan ini adalah harganya," kata Horsey.
Horsey menambahkan, "Dia mengatakan ini bukan pengakuan, tetapi Min Aung Hlaing akan menampilkannya persis seperti itu."
Sementara itu, pemerintah Myanmar menyatakan komitmennya terhadap pemulangan yang "aman dan bermartabat". Namun, perang saudara dan kekerasan yang masih berlangsung membuat kebijakan pemulangan tersebut tetap mendapat sorotan dari PBB dan kelompok hak asasi manusia.