Evaluasi tersebut mencakup kewajaran perhitungan, keterjangkauan tarif, pemulihan biaya (cost recovery), dan efisiensi operasional.
Sementara itu, Perumda Tirta Raharja mencatat penurunan debit air baku rata-rata 23 persen hingga September 2026 dibandingkan kondisi normal.
Kapasitas produksi normal perusahaan mencapai sekitar 1.008 liter per detik, sedangkan 12.907 dari total 122.532 sambungan pelanggan berada di wilayah yang berpotensi mengalami penyesuaian jam pengaliran dan tekanan air.
Cakra mengatakan air minum merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk upaya pencegahan stunting, sehingga penyesuaian tarif harus tetap memperhatikan keterjangkauan layanan bagi seluruh kelompok pelanggan.