NADIKABAR.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya menerima dukungan sebanyak 66 unit alat berat untuk memperkuat pemulihan serta rehabilitasi dan rekonstruksi kabupaten tersebut pascabencana hidrometeorologi dari pemerintah pusat.
Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi di Pidie Jaya, Jumat, mengatakan puluhan alat berat tersebut merupakan realisasi dukungan percepatan yang disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian beberapa waktu lalu.
"Ada sebanyak 66 unit alat berat yang diterima Pemkab Pidie Jaya dari pemerintah pusat untuk percepatan pemulihan serta rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana," katanya
Puluhan alat berat tersebut terdiri 16 unit ekskavator berbagai jenis, enam unit buldoser, enam unit backhoe loader, dan 44 unit truk jungkit atau dump truck.
Sibral Malasyi mengatakan alat berat tersebut digunakan untuk pengerukan dan penggalian material banjir yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada akhir November 2025.
"Melalui Dinas Pekerjaan Umum, alat berat diprioritaskan untuk normalisasi sungai Krueng Meureudu, pengerukan muara, pembersihan saluran irigasi, dan lingkungan permukiman," katanya.
Sedangkan Dinas Pertanian digunakan untuk menangani pembersihan sawah terdampak bencana. Serta Dinas Kelautan dan Perikanan digunakan untuk pembersihan tambak terdampak bencana.
"Penempatan alat berat dapat digeser sesuai kebutuhan serta tingkat urgensi di lapangan agar sumber daya yang tersedia bekerja tepat sasaran," kata Bupati Pidie Jaya.
Dengan dukungan alat berat tersebut, kata dia, diharapkan lahan pertanian, pertambahan, dan sumber pencarian masyarakat bisa bangkit kembali dan berproduksi setelah bencana.
Sibral Malasyi juga mendorong dinas-dinas terkait di lingkung Pemkab Pidie Jaya bergerak terpadu, menetapkan lokasi kerja berdasarkan prioritas, mengoptimalkan alat berat serta memastikan hasil pekerjaan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami berharap dukungan pemerintah pusat menjadi pengungkit percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Pidie Jaya. Pemulihan infrastruktur dasar dan ekonomi produktif menjadi bagian penting kebangkitan pascabencana," kata Sibral Malasyi.
Bencana banjir melanda Kabupaten Pidie Jaya sejak 26 November 2025 dan terus meninggalkan dampak luas dan memukul aktivitas masyarakat di berbagai kecamatan. Saat itu hujan deras berturut-turut membuat sejumlah sungai meluap, merendam ribuan rumah warga, fasilitas publik, dan lahan pertanian.
Banjir itu disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dimana Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, Ulim, dan Pidie Jaya menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling parah.
Ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman setelah air merendam pemukiman setinggi pinggang hingga dada orang dewasa. Lebih dari 20 ribu warga tercatat mengungsi pada ratusan titik pengungsian.
Berdasarkan data, banjir pada November 2025 itu mengakibatkan 1.625 hektare lahan pertanian di Pidie Jaya terdampak dengan rincian, 1.225 hektare rusak ringan, 141 hektare rusak sedang, dan 259 hektare rusak berat.