"Kami berharap dukungan pemerintah pusat menjadi pengungkit percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Pidie Jaya. Pemulihan infrastruktur dasar dan ekonomi produktif menjadi bagian penting kebangkitan pascabencana," kata Sibral Malasyi.

Bencana banjir melanda Kabupaten Pidie Jaya sejak 26 November 2025 dan terus meninggalkan dampak luas dan memukul aktivitas masyarakat di berbagai kecamatan. Saat itu hujan deras berturut-turut membuat sejumlah sungai meluap, merendam ribuan rumah warga, fasilitas publik, dan lahan pertanian.

Banjir itu disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dimana Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, Ulim, dan Pidie Jaya menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling parah.

Ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman setelah air merendam pemukiman setinggi pinggang hingga dada orang dewasa. Lebih dari 20 ribu warga tercatat mengungsi pada ratusan titik pengungsian.

Berdasarkan data, banjir pada November 2025 itu mengakibatkan 1.625 hektare lahan pertanian di Pidie Jaya terdampak dengan rincian, 1.225 hektare rusak ringan, 141 hektare rusak sedang, dan 259 hektare rusak berat.