Berdasarkan perkiraan Dinas Pertanian Tulungagung, produktivitas dengan metode tersebut dapat mencapai 10 hingga 12 ton per hektare, sedangkan metode konvensional rata-rata menghasilkan sekitar 7 ton hingga 8 ton per hektare.
Namun, penerapan tabela membutuhkan benih lebih banyak karena benih ditanam dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.
Kebutuhan benih diperkirakan mencapai 50 hingga 100 kilogram per hektare, dibandingkan sekitar 25 hingga 45 kilogram per hektare pada metode konvensional.
"Kebutuhan pupuk menyesuaikan dengan jumlah tanaman yang ditanam," ujarnya.
Suyanto mengatakan umur panen tanaman dengan metode tabela relatif tidak jauh berbeda dibandingkan pola tanam konvensional.